Eksplorasi armada tempur legendaris dari pabrikan Sukhoi Rusia. Dari pesawat tempur superioritas udara hingga prototipe eksperimental.
Menampilkan 14 pesawat
Sukhoi Su-2 (Rusia: Сухой Су-2) adalah pesawat pembom ringan dan pengintai Soviet yang digunakan pada tahap awal Perang Dunia II. Pesawat ini adalah pesawat pertama yang dirancang oleh Pavel Sukhoi. Desain dasar menerima mesin dan persenjataan Upgrade (Su-4) dan dimodifikasi untuk peran serangan darat (SHB). Desain setelah British Fairey Battle, Sukhoi Su-2 Soviet, dirancang oleh Pavel Sukhoi, sebelumnya oleh biro desain Tupolev, mulai beroperasi dengan V-VS di awal 1941, tetapi sejauh yang diketahui, tidak terlibat dalam Winter War yang berakhir pada tahun sebelumnya. Diturunkan dari ANT-51 Sukhoi dan diberi kode BB-1 selama uji coba awal, pesawat ini cukup efisien terutama setalah mesin M-87 digantikan dengan M-88 dan kemudian M-88B. Konsep taktis berubah cepat selama dua tahun pertama perang, tetapi, dan penggunaan besar armada pesawat kursi tunggal Jerman untuk mendukung pasukan daratnya telah menjadi ancaman bagi Soviet pada pertengahan 1941. Walaupun teah diupgrade dengan mesin baru radial M-88B 746kW, Su-2 tetap sangat rentan dan terbukti tidak dapat mempertahankan diri dari senapan mesin caliber kecil yang terpasang di bagian belakang pesawat musuh. Estimasi menunjukkan bahwa sekitar 100 pesawat ini beroperasi dengan Frontovaya Aviatsya pada saat tentara Jerman mulai menyerang Uni Soviet pada Juni 1941, tetapi belasan di antaranya tertembak jatuh oleh Flak (meriam penangkis udara) dan pesawat musuh pada beberapa minggu pertama, lebih-lebih lagi, dengan rendahnya standar pelatihan di angkatan udara Soviet, Su-2 terbukti hampir tak berguna sebagai senjata melawan target bergerak di medan perang. Pada saat itu, Soviet kekurangan pesawat pendukung pasukan darat dan upaya dilakukan untuk lebih meningkatkan kemampuan Su-2 dengan pemasangan,mesin radial M-82 1134kW, serta penghilangan turret sirip belakang, tetapi hanya memberikan sedikit keuntungan taktis. Karena terus menerus kalah, Soviet memasang bom dan roket pada pesawat ini dengan tujuan untuk penyerangan ke pasukan darat, dan ini memberikan keuntungan lebih. Pesawat ini, sepenuhnya didesain ulang menjadi Su-6, yang kemudian ditinggalkan untuk pengembangan menyeluruh pesawat Il-2m3. Su-2 diproduksi hingga pertengahan 1942.
Sukhoi Su-5 atau I-107 adalah pesawat tempur prototipe campuran-daya (baling-baling dan motorjet) Soviet dibangun menjelang akhir Perang Dunia II. Su-5 (awalnya I-107) dan konseptual serupa Mikoyan-Gurevich I-250 dirancang pada tahun 1944. Pesawat pertama terbang pada tanggal 6 April 1945 dan menjalani uji penerbangan terbatas. Su-5 adalah monoplane konvensional konstruksi semua logam. Motorjet VRDK (Rusia: Воздушно-Реактивный Двигатель Компрессорный) di belakang pesawat ini didukung oleh driveshaft dari mesin piston VK-107 dan dapat memberikan tambahan 100 km/jam (54 kn, 62 mph) kecepatan selama tiga menit. Sukhoi Su-5 or I-107 adalah purwarupa pesawat tempur bermesin campuran (propeller dan motorjet) yang dibuat pada akhir PD II. Pengembangan yang dilakukan di TsIAM (Institut Mesin Aero Pusat) oleh K V Kholshchevnikov yang disebut sebagai "accelerator", atau VRDK (Vozdushno-reaktivny dvigatyel kompressorny, atau Kompresor Mesin Reaksi-Udara), sebagai jawaban permintaan pengembangan pesawat tempur kursi tunggal bermesin campuran untuk mengatasi potensi ancaman dari pesawat tempur bermesin jet buatan Jerman. Kedua biro baik MiG maupun Sukhoi diperintahkan untuk membuat pesawat jenis ini, dan yang pertama dikembangkan adalah MiG-13 alias I-250(N) dan kemudian Su-5 alias I-107. VRDK menghasilkan tenaga dorong 300 kg hingga 10 menit di altitude tinggi untuk meningkatkan kekuatan yang dimiliki oleh mesin berpendingin-cairan tipe-Vee 12 silinder Klimov M-107A (VK-107A) yang menghasilkan 1,650 hp untuk lepas landas. Su-5 merupakan monoplane kursi tunggal dengan kulit logam dan badan pesawat monocoque. Dia mempunyai sebuah kanon terpasang-di-mesin 23mm dan dua senapan mesin 12.7mm. Pesawat ini terbang pertama kali pada April 1945, dan purwarupanya tidak lama kemudian dipasangin dengan sayap baru bertipe “laminar-flow” yang dikembangkan oleh TsAGI, dan dalam sebuah tes penerbangan, pesawat ini mencapai kecepatan 793 km/jam pada ketinggian 4350m, lebih cepat 25 km/jam dari perhitungan teoretis. Efek penggunaan VRDK menghasilkan kecepatan 90 km/jam pada ketinggian rendah dan meningkat hingga 110 km/jam pada ketinggian 7800m, sementara kecepatan maksimal yang diharapkan adalah 810 km/jam. Pada awal Juni 1945, sebelum kecepatan maksimal yang dimaksud tercapai, mesin M-170A mengalami kerusakan hebat dan tidak dapat diperbaiki, sehinga program Su-5 diabaikan dan akhirnya dibatalkan.
Sukhoi Su-7 ( nama sebutan NATO: Fitter-A) adalah swept wing, pesawat tempur supersonik yang dikembangkan oleh Uni Soviet pada tahun 1955. Awalnya, ia dirancang sebagai pesawat taktis, dogfighter tingkat rendah, tetapi tidak berhasil dalam peran ini. Di sisi lain, segera memperkenalkan Su-7B seri menjadi pesawat Soviet tempur pembom utama dan pesawat serang dari tahun 1960-an. Su-7 adalah kasar dalam kesederhanaan tetapi kekurangannya adalah meliputi jangka pendek dan beban senjata rendah. Selama reorganisasi industri pesawat Soviet pada November 1949, Pavel O Sukhoi's OKB dibubarkan, tetapi dibentuk kembali setelah tiga setengah tahun pada Mei 1953, untuk mengerjakan proyek pengembangan dua pesawat tempur. Proyek ini kemudian diberi nama sebagai S-1 dan T-3, huruf awal pada nama merupakan singkatan dari strelovidnyi (arrowhead) dan treugolnyi (triangular) yang merupakan konfigurasi sayap (sebagai contoh: sayap tertekuk ke belakang dan delta). Kedua pesawat tersebut diddesain untuk memakai mesin turbojet Lyulka AL-7 (TRD-31), tetapi dengan komonalitas desain yang terbatas. S-1 disebut sebagai pesawat tempur “frontal”, sebuah pesawat perang superioritas udara taktis yang ditujukan untuk beroperasi di sekitar garis depan. Pesawat ini merupakan pesawat Soviet pertama yang memiliki fitur ekor tipe-slab dan sebuah translating nose cone. Pesawat ini terbang pada 8 September 1955, dan awalnya dipasangi mesin AL-7 dengan tenaga 6500 kg. Mesin ini diganti dengan AL-7F yang bertenaga 9500 kg, yang pada akhirnya pesawat ini membuat rekor kecepatan nasional dengan kecepatan 2170 km/jam atau 2.04 Mach pada April 1956. S1 memiliki sayap tertekuk ke belakang 60°. Persenjataannya terdiri dari tiga kanon 30 mm dan memiliki retractable ventral tray untuk 32 roket spin-stabilised 57mm Pesawat ini melakukan demo terbang di atas Tushino pada 24 Juni 1956, tetapi purwarupa ini mengalami kecelakaan pada 21 November pada tahun yang sama. Purwarupa kedua, S-2, memasukkan beberapa perbaikan aerodinamis. Purwarupa ini ikut dalam program uji hingga beberapa waktu dan walaupun tidak berhasil dalam uji Negara hingga musim Gugur 1957, pengerjaan untuk pre-seri tetap berjalan serentak. Dibuat dalam jumlah yang cukup untuk melengkapi resimen dalam keperluan evaluasi, pesawat ini mulai beroperasi pada awal 1959 di Timur-jauh Soviet. Pesawat yang memiliki peran utama udara-ke-udara ini akhirnya diberi nama sebagai Su-7. Penyebutan ini sudah pernah dipakai pada pesawat tempur eksperimental pada tahun 1944. Perubahan kebutuhan menyebabkan pengembangan selanjutnya didedikasikan untuk pesawat serang-darat (ground attack) di bawah nama Su-7B (S-22).
Sukhoi Su-9 (Kode NATO: Fishpot) adalah pesawat supersonik bermesin tunggal, beroperasi disegala cuaca, dengan sebuah misil. Pesawat ini mempunyai tipe interseptor di produksi oleh Uni Soviet (sekarang Rusia). Dalam waktu yang relatif singkat, OKB Pavel Sukhoi berhasil mengembangkan pesawat tempur interseptor kursi-tunggal segala-cuaca dari T-3 dan turunannya. Dengan nama Su-9, interseptor ini telah tersedia untuk masuk service IA-PVO Strany dari 1961. Su-9 dikembangkan secara langsung dari seri purwarupa T-4, yang menggunakan sayap delta 57° dan turbojet Lyulka AL-7F, dengan purwarupa terdahulu berbeda satu dengan yang lain dalam desain detail, sistem dan perlengkapan. Purwarupa T-4 pertama, dengan nama T-401, masuk ke tahap uji terbang pada 1957, dan pada Mei 1960, sebuah pesawat serupa, T-405 membuat rekor sirkuit tertutup 100km baru dengan kecepatan 2.092 km/jam. Pengembangan pesawat tempur definitif, T-43 pertama kali terbang pada 1958 dengan nama T-431, dan membuat rekor zoom climb altitude dengan ketinggian 28.850m pada 14 Juli 1959. Tiga tahun kemudian, T-431 membuat dua rekor, yang pertama sustained altitude pada ketinggian 21.170m dan rekor sirkuit tertutup 500m dengan kecepatan 2.337 km/jam. Produksi serial dari T-43 yang diberi nama Su-9 diluncurkan pada 1959. Persenjataan standarnya terdiri dari empat AAM beam-riding K-5 pada pylons di bawah sayap. Produksi Su-9 dipercaya mencapai 1.000 pesawat. Pesawat ini tetap beroperasi dengan Soviet hingga awal 1980an
Sukhoi Su-11 (Kode NATO: 'Fishpot-C') adalah pesawat interseptor produksi Uni Soviet sekitar tahun 1960-an. Su-11 dianggap sebagai pesawat tempur yang sangat potensial. Pesawat ini didesain berdasarkan pengembangan lebih lanjut pesawat Su-9 yang terbatas dan inferior, yang dilakukan secara paralel dengan pengembangan pesawat tempur-bomber Su-7. Su-11 atau yang dikenal dengan nama lain Samolet LK diharapkan menjadi pesawat Soviet pertama yang memakai mesin turbojet desain dalam negeri. Sukhoi mulai mengembangkan Su-11 dengan purwarupa yang disebut T-74 dan pertama kali terbang pada 1961. Pesawat ini memakai mesin yang lebih bertenaga dari Su-9, sistem radar baru dan persenjataan yang lebih baik. Badan pesawat ini pada dasarnya mirip dengan Su-9 yang berbentuk seperti cerutu, dengan beberapa revisi struktural untuk mengakomodasi mesin yang lebih besar, mesin turbojet Lyulka Al-7F-1 yang menghasilkan tenaga 9,8 kN (2.210 lbf) dengan afterburning sistem untuk meningkatkan kecepatan naik dan performa pada ketinggian (dan untuk mengantisipasi bertambahnya berat pesawat). Sayap Su-11 sama dengan Su-9 yang berbentuk delta, ekor pesawat yang tertekuk kebelakang dan intake hidung sirkuler. Hidung pesawat Su-11 lebih besar untuk menampung set radar “Oryol” yang lebih kuat. Su-11 dapat dibedakan dari Su-9 dengan adanya pipa bahan bakar eksternal yang berada di bagian atas badan pesawat, di belakang kokpit. Su-11 dipersenjatai dengan misil udara-ke-udara baru, “Anab”, yang merupakan pengganti dari misil “beam-riding” K-5. Su-11 akan dilengkapi dengan dua misil Anab, satu bertipe misil kendali infra merah dan jejak termal, sedang satunya bertipe misil kendali radar. Seperti tipe interseptor pada masanya, pesawat ini tidak dilengkapi dengan senapan (kanon). Tangki bahan bakar tambahan menjadi standar untuk dipasang karena disadari jarak jelajah pesawat ini terbatas tanpanya. Versi Latih pesawat ini, Su-11U “Maiden” juga dikembangkan. Mirip seperti Su-9U, pesawat ini juga dilengkapi dengan persenjataan dan sistem radar penuh untuk keperluan latihan. Karena penambahan kursi untuk pelatih, kapasitas tangki bahan bakar dikurangi, sehingga pesawat ini tidak layak untuk keperluan tempur. Produksi Su-11-8M definitif dimulai pada 1962 hingga 1965, setelah sekitar 108 pesawat diproduksi, walaupun dipercaya setidaknya beberapa Su-9 diupgrade ke Su-11. Masalah pengembangan dan kecelakaan mengakibatkan produksi terhambat, hingga 1964, hanya sedikit yang berhasil diproduksi. Walaupun memiliki radar yang superior, tetapi pesawat ini tetap sangat tergantung pada Ground Control Interception (GCI) untuk mengarahkan pilot ke sasaran. Pesawat ini juga tidak mempunyai kemampuan menghadapi pesawat yang terbang-rendah, dan OKB Sukhoi menganggap Su-11 gagal dan sangat inferior dari Su-15 ‘Flagon”. Akan tetapi beberapa pesawat ini tetap beroperasi hingga 1980an. Su-11 terakhir beroperasi hingga 1983. Tidak ada Su-11 yang beroperasi di luar Uni Soviet. Dan ketika pesawat baru muncul menggantikannya, pesawat ini dijadikan target untuk latihan pertahanan.
Sukhoi Su-15 adalah pesawat jet pencegat supersonik asal Rusia yang dikeluarkan oleb Biro Sukhoi-OKB. Pesawat ini mulai berdinas pada tahun 1970-an yang merupakan mitra atau pelengkap pesawat tempur MiG-23 Flogger yang dikeluarkan oleh biro MiG (Mikoyan Guryevich). Pesawat ini cukup terkenal karena menembak jatuh pesawat sipil Boeing B-747 Korean Air 007 pada tahun 1983. Selain itu juga terlibat dalam pertempuran udara dalam Konflik Ethiopia di mana 9 pesawat hancur tertembak. Selain digunakan oleh negara-negara pecahan Uni Soviet, pesawat ini juga dioperasikan oleh sekutu-sekutunya. Saat itu Uni Soviet menduga pesawat B-747 Korean Air adalah pesawat mata-mata Amerika Serikat, Boeing RB-47 yang berdasarkan pantauan radar memang mirip dan sering beroperasi diwilayah dekat Vladivostok dan Pulau Sakhalin yang terlarang karena terdapat pangkalan nuklir dan militer rahasia. Menurut para pejabat militer dan kedirgantaraan Uni Soviet saat itu, Pesawat B-747 Korean Air membawa peralatan spionase udara meskipun banyak para pejabat penerbangan internasional membantahnya. Berdasarkan perkiraan para pengamat penerbangan, Pesawat B-747 Korean air mengalami kesalahan peta navigasi pesawat sehingga melewati kawasan itu tetapi, kesalahan itu merupakan kesengajaan atau tidak, masih dipertentangkan.
Mencoba untuk meningkatkan kecepatan-rendah dan performa take-off/landing dari pesawat penempur-pembom Su-7B pada tahun 1963, OKB Sukhoi dengan masukan dari TsAGI membuat demonstrator teknologi untuk variable-sweep wing. 'Su-7G (penamaan internal S-221, penamaan NATO Fitter-B), dikonversi dari produksi Su-7BM, memiliki bagian sayap dalam yang bisa bergerak di segmen luarnya sehingga bisa digerakkan hingga 28°, 45°, atau 62°.[1] Sayap bagian dalam yang fix memudahkan pembuat pesawat untuk tetap menggunakan landing gear Su-7 dan menghindari kebutuhan untuk poros yang sulit untuk hardpoint di bawah sayap, serta meminimalisir pergeseran dalam titik pusat tekanan relatif kepada titik pusat masa dengan perubahan pada sayap yang bisa bergerak.[2] Sayap baru ini juga memiliki lerengan bersisi depan dan flap di sisi belakang. Su-7IG pertama kali terbang pada 2 Agustus 1966 dengan V.S. Ilyushin untuk pengendalinya, menjadi pesawat pertama Soviet yang memiliki geometri yang bervariasi.[2] Percobaan ini menghasilkan temuan bahwa kecepatan take-off dan pendaratan telah berkurang hingga 50–60 km/h (27-32 kn, 31-37 mph) dibandingkan dengan Su-7 konvensional [2]
Sukhoi Su-24 (kode NATO: 'Fencer') adalah sebuah pesawat penyerang segala cuaca supersonik Uni Soviet yang paling maju pada tahun 1970-1980an. Pesawat ini diawaki dua orang, mempunyai dua mesin dan merupakan pesawat Soviet pertama yang memiliki perangkat navigasi dan serang digital terintegrasi. Secara fisik mirip dengan General Dynamics F-111 Aardvark dari Amerika Serikat, tetapi memiliki kemampuan mendekati Panavia Tornado IDS dari Britania Raya dan Jerman. Latar Belakang Sisi bawah Su-24. Rancangan Su-24 berawal dari kebutuhan AU Soviet akan pesawat penyerang baru untuk menggantikan Ilyushin Il-28 dan Yakovlev Yak-28, dengan spesifikasi pesawat penyerang segala cuaca dengan kemampuan terbang supersonic pada ketinggian rendah dan dilengkapi dengan perangkat navigasi dan serang paling maju. Pesawat ini juga dituntut mempunyai kemampuan lepas landas dari landasan pendek. Prototip pertama, T-6-1 terbang pertama kali tahun 1967, dengan sayap delta dan mempunyai mesin lift di tengah-tengah badannya, serupa dengan Sukhoi T-58VD 'Flagon-B'. T-6-1 susah untuk dikendalikan ketika mendarat. Sukhoi memodifikasi prototip pertama ini menjadi T-6-2 yang tidak memilki mesin lift tetapi memiliki sayap dengan wingtips yang mengarah kebawah dan flaps, mirip dengan yang dimiliki British Aircraft Corporation TSR.2. Hanya desain sayap rendahnya susah untuk dibawa terbang di ketinggian rendah. Prototipe lainnya kemudian dipasangi sayap variable-geometry, seperti pada Sukhoi Su-17 'Fitter' dan Mikoyan-Gurevich 23-11, lalu diberi nama T-6-2IG. Terbang perdana tahun 1970 dan diberi kode Su-15M. Intelijen Barat salah menginterpretasikan dan memberi kode Su-19 hingga 1981. Versi produksi massal, dengan basis T-6-2IG, terbang perdana tahun 1971 dan masuk dinas aktif tahun 1974 dengan kode Su-24 'Fencer-A'. Walaupun terdapat beberapa masalah dengan sistem avioniknya, Su-24 cukup populer dikalangan awak dan teknisinya, yang menamainya Chemodan, artinya koper (suitcase) karena kemampuannya membawa beban berat dan tangguh. Pengalaman tempur pertama didapat di Afghanistan tahun 1984. Sementara dalam kampanye pengeboman di Chechnya tahun 1990an kemampuan pengeboman Su-24 dinilai kurang presisi mengakibatkan tingginya jumlah korban sipil. Sekitar 1200 Su-24 diproduksi. 447 masuk dinas aktif di AU Soviet sementara 130 di AL Soviet. Versi upgrade diberi kode Su-24M. Versi ekspornya, Su-24MK (Kommercheskiy, komersial), dijual ke beberapa di antaranya; 10 ke Algeria, 15 ke Libya dan 12 ke Syria, serta kira-kira 30an dijual ke Iran dan Irak. Ada perbedaan versi mengenai jumlahnya, tetapi sebuah sumber di Soviet menyebutkan bahwa 9 dijual ke Iran, sementara 24 ke Irak. Namun, Iran mengklaim mereka membeli 14, dan mendapatkan 16-18 pesawat eks-Irak yang dibawa kabur pilotnya ke Iran ketika Perang Teluk I tahun 1991. Ketika Uni Soviet pecah sejumlah besar Su-24 masih dioperasikan oleh negara-negara seperti Azerbaijan, Belarusia, Kazakhstan, Russia, Uzbekistan dan Ukraina
Sukhoi SU-27 (kode NATO: Flanker) adalah pesawat tempur yang awalnya diproduksi oleh Uni Soviet, dan dirancang oleh Biro Desain Sukhoi. Pesawat ini direncanakan untuk menjadi saingan utama generasi baru pesawat tempur Amerika Serikat (yaitu F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18 Hornet). SU-27 memiliki jarak jangkau yang jauh, persenjataan yang berat, dan kelincahan yang tinggi. Pesawat ini sering disebut sebagai hasil persaingan antara Sukhoi dengan Mikoyan-Gurevich, karena Su-27 dan MiG-29 berbentuk mirip. Ini adalah keliru, karena SU-27 dirancang sebagai pesawat interseptor dan pesawat tempur superioritas udara jarak jauh, sedangkan MiG-29 dirancang untuk mengisi peran pesawat tempur pendukung jarak dekat. Pada pertengan 1970an, F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon membuat Blok Timur berada pada kesulitan. Peluncuran SU-27 Flanker dan MiG-29 Fulcrum pada pertengahan 1980an, membuat keadaan menjadi berimbang. Didesain sebagai pesawat tempur berperforma tinggi dengan sebuah sistem kontrol fly-by-wire dan kemampuan untuk membawa sampai 10AAM. Pesawat SU-27 yang mempunyai manuverabilitas hebat merupakan salah satu pesawat yang paling mengesankan yang pernah dibuat. Purwa rupa pertama "Flanker-A" terbang pada 20 Mei 1977 dan diresmikan sebagai "Flanker B" pada 1984. Pengembangan pesawat tempur SU-27 telah selesai pada awal 1980an, dan sesudahnya membuat lebih dari 40 rekor dunia untuk kecepatan altitude dan take-off. Pesawat ini merupakan pelopor dari sebuah jenis/keluarga pesawat termasuk pesawat latih SU-27UB, pesawat tempur SU-33, pesawat multi-misi SU-37 dan pesawat spesialis dua tempat duduk Su-32FN. Su-27UB adalah versi Su-27 dengan 2 tempat duduk yang pertama kali terbang pada Maret 1985. Pesawat SU-27 tidak hanya beroperasi di Rusia dan negara-negara CIS, tetapi juga di Afrika, China dan Vietnam. Cina juga membeli lisensi untuk produksi pesawat SU-27 sendiri. Pada 1997 Sukhoi menandatangani kontrak dengan Vietnam seharga $180 juta untuk mensuplai 6 SU-27 (2 SU-27SK dan 4 SU-27UB). Sukhoi mengirim 4 di antaranya pada 1996 dan 2 hancur karena kapal pengangkutnya menabrak blok apartemen di Irkutsk. Diperkirakan Vietnam membeli 24 pesawat tempur Sukhoi dengan harga $800 juta di akhir millennium lalu. Pesawat SU-27 mempunyai sayap yang dipasang menengah (di bagian tengah badan pesawat) dan berbentuk semidelta dengan ujung kotak. LERX memanjang di bawah dan depan akar sayap. Terdapat dua mesin di dalam badan pesawat. Terdapat "air intakes" (saluran udara) berbentuk kotak dan "diagonally-cut" (terpotong secara diagonal), terpasang di bawah sayap sepanjang samping bodi pesawat. Bodi pesawat berbentuk segiempat dari saluran udara sampai ekor pesawat. Hidung meruncing dan terdapat kanopi gelembung. Sirip ekor tertekuk ke belakang, tajam denganujung kotak dan terpasang di luar mesin. "Flats"-nya dipasang di tengah (mid-mounted), tertekuk ke belakang dan tajam. Mempunyai sistem "airbrakes" yang dipasang di atas bodi pesawat, di belakang kokpit.
Sukhoi Su-30 (kode NATO: Flanker-C) adalah pesawat tempur yang dikembangkan oleh Sukhoi Rusia pada tahun 1996. Pesawat ini adalah pesawat tempur multifungsi, yang efektif dipakai sebagai pesawat serang darat. Pesawat ini dapat disandingan dengan F/A-18E/F Super Hornet dan F-15E Strike Eagle dari Amerika Serikat. Pesawat ini adalah pengembangan dari Su-27UB, dan memiliki beberapa varian. Seri Su-30K dan Su-30MK telah sukses secara komersial. Varian-varian ini diproduksi oleh KnAAPO dan Irkut, yang merupakan anak perusahaan Sukhoi. KnAAPO memproduksi Su-30MKK dan Su-30MK2, yang dirancang dan dijual kepada Tiongkok. Su-30 paling mutakhir adalah seri Su-30MK buatan Irkut. Antara lain Su-30MKI, yang merupakan pesawat yang dikembangkan khusus untuk Angkatan Udara India, serta MKM untuk Malaysia dan MKA untuk Aljazair. Pesawat Sukhoi Su-27 (kode NATO: Flanker) adalah pesawat tempur yang awalnya diproduksi oleh Uni Soviet, dan dirancang oleh Biro Desain Sukhoi. Pesawat ini direncanakan untuk menjadi saingan utama generasi baru pesawat tempur Amerika Serikat (yaitu F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18 Hornet). Pesawat Su-27 memiliki jarak jangkau yang jauh, persenjataan yang berat, dan kelincahan yang tinggi. Pesawat ini sering disebut sebagai hasil persaingan antara Sukhoi dengan Mikoyan-Gurevich, karena Su-27 dan MiG-29 berbentuk mirip. Ini adalah keliru, karena Su-27 dirancang sebagai pesawat interseptor dan pesawat tempur superioritas udara jarak jauh, sedangkan MiG-29 dirancang untuk mengisi peran pesawat tempur pendukung jarak dekat. Berdasarkan pada pesawat trainer dua-tempat duduk Su-27UB dan pada awalnya dikenal sebagai Su-27PU, Su-30 adalah pesawat tempur presisi jarak-jauh yang sama dengan F-15E Eagles. Walaupun mempertahankan kemampuan interceptor udara-ke-udara dari Su-27, Model awal Su30 dan Su-30K dioptimasi untuk misi enduransi panjang 10 jam atau lebih. Pesawat jenis ini dilengkapi dengan sistem radiolocation yang memungkinkan pelacakan hingga 10 target dalam waktu bersamaan. Fitur ini membuat Su-30 cocok sebagai pemimpin pesawat tempur taktis sebagai target buruan dari pesawat musuh. Varian ini selanjutnya digabungkan dengan model Su-30M multi-peran yang mempunyai kemampuan penyerangan darat presisi dengan membawa misil dan bom kendali canggih. Sukhoi juga secara aktif menjual model ekspor Su-30MK, yang telah dibeli dengan jumlah besar oleh India (Su-30MKI) dan China (Su-30MKK, Su-30MK2). Pesawat milik India secara umum lebih baik daripada seluruh varian Su30 lain dan memiliki "canard" dan "vectored thrust nozzles" untuk meningkatkan manuverabilitasnya, radar yang lebih baik, dan teknologi avionic yang lebih canggih dari India dan sumber Barat. Rencana saat ini, Au India membutuhkan 230 pesawat Su-30MKI dan sekitar 140 sampai 180 di antaranya mendapat lisensi untuk dibuat di Hindustan Aeronautics Limited di India. Indonesia juga menunjukkan ketertarikan untuk membeli pesawat model ini, hanya saja pada saat itu terhambat karena keadaan ekonomi dan politik. Negara lain yang berminat berasal dari Asia dan Timur Tengah seperti Malaysia, Vietnam, Algeria dan Syria. Untuk Rusia, Su-30 merupakan pelengkap dan pengganti MiG-31 dan Su-27 di AU Rusia. Beberapa upgrade untuk pesawat ini untuk mempertahankan kemampuan pesawat menghadapi pesawat jenis lain direncanakan akan terus berlanjut hingga 2020.
Sukhoi Su-33 (kode NATO: Flanker-D) adalah pesawat tempur angkatan laut yang dikembangkan oleh Sukhoi pada tahun 1982 untuk dipakai di atas kapal induk. Pesawat ini merupakan pengembangan dari Su-27, dan sebelumnya diberi nama Su-27K. Perbedaan Su-27 dengan Su-33 adalah Su-33 dilengkapi peralatan untuk diluncurkan dan mendarat di kapal induk (seperti cantolan belakang dan sayap lipat), dapat dipasang canard, dan dapat mengisi bahan bakar di udara. Sesuai dengan misinya, pesawat ini bisa dianggap sebanding dengan F-14 Tomcat Amerika Serikat, sedangkan MiG-29K 'Fulcrum-D' sebanding dengan F/A-18 Hornet. Sejarah Pesawat Sukhoi Su-33 adalah versi kapal induk dari Su-27 yang semula didesain untuk beroperasi pada kapal induk utama Uni Soviet. Untuk memenuhi kebutuhan operasi di kapal induk, su-33 mempunyai airframe yang lebih kuat, anti korosi, roda penangkap, mesin yang lebih bertenaga dan sayap yang dapat ditekuk untuk kemudahan penyimpanan di atas kapal induk. Su-33 juga merupakan varian Su-27 pertama yang memakai canard untuk meningkatkan manuberabilitas serta mengurangi jarak take-off dan kecepatan saat mendarat. Pesawat Su-27K, desain awal dari Su-33, pada awalnya dikembangkan untuk AL Soviet bersama dengan MiG-29K. Diharapkan kedua pesawat ini digunakan untuk operasi kapal induk. Akan tetapi, ehancuran Uni Soviet meninggalkan hanya satu Kapal induk kelas Kuznetsov, sehingga hanya satu pesawat yang diputuskan untuk dikembangkan. Walaupun lebih mahal dan ukurannya lebih besar (sehingga sedikit pesawat yang akan muat dalam kapal induk), AL Soviet memilih Su-27K. Sekitar 24 pesawat yang sekarang dikenal sebagai Su-33 oleh Sukhoi. Sayangnya, karena kekurangan dana menyebabkan Soviet tidak lagi memakai kapal induk dan pesawat ini sekarang beroperasi dari pangkalan dekat pantai. Pengembangan selanjutnya adalah pesawat latih dua tempat duduk Su-27KUB atau Su-33UB yang memiliki susunan tempat duduk berdampingan seperti Su-34.
Sukhoi Su-47 Berkut (bahasa Rusia: Су-47 Беркут - Elang Emas) (Kode NATO: Firkin), juga dirancang sebagai S-32 dan S-37 ( berbeda dengan pesawat kanard delta bermesin tunggal[1] yang diselesaikan oleh Sukhoi pada awal dasawarsa 1990-an di bawah rancangan Sukhoi Su-37) selama pengembangan awal, merupakan pesawat tempur supersonik yang dikembangkan oleh Sukhoi. Fitur pembeda pesawat ini adalah sayap penyapu depan, serupa dengan LL-3 milik Tsybin.[2], yang memberikan pesawat ini kelincahan yang menakjubkan. Dan pada saat produksi jenis ini tidak diujudkan, satu-satunya pesawat yang diproduksi digunakan sebagai purwarupa peraga teknologi untuk sejumlah teknologi canggih yang kemudian digunakan di dalam pesawat tempur generasi 4.5 Su-35 dan purwarupa pesawat tempur terkini Rusia generasi ke-5 Su-57. Deskripsi Sukhoi Su-47 Berkut (bahasa Rusia: Су-47 Беркут - Elang Emas) (Kode NATO: Firkin), juga dirancang sebagai S-32 dan S-37 selama pengembangan awal, merupakan pesawat tempur supersonik yang dikembangkan oleh Sukhoi. Fitur pembeda pesawat ini adalah sayap penyapu depan, serupa dengan LL-3 milik Tsybin, yang memberikan pesawat ini kelincahan yang menakjubkan. Dan pada saat produksi jenis ini tidak diwujudkan, satu-satunya pesawat yang diproduksi digunakan sebagai purwarupa peraga teknologi untuk sejumlah teknologi canggih yang kemudian digunakan di dalam pesawat tempur generasi 4.5 Sukhoi Su-35 Flanker-E dan purwarupa pesawat tempur terkini Rusia generasi ke-5 Sukhoi T-50 PAK FA. S-37 mempunyai sayap tertekuk ke depan, yang menjanjikan keunggulan di bidang aerodinamis pada kecepatan subsonic dan pada sudut tinggi (high angles of) serangan. Sayap yang tertekuk ke depan ini memungkinkan bertambahnya jarak dan manuverabilitas pada altitude yang tinggi. Pesawat ini mempunyai canard besar yang terpasang di samping saluran udara, dekat dengan ujung depan sayap. Penstabil vertikal dipasang di sebelah luar (sedikit di luar, bukan di dalam seperti dugaan sebelumnya), dan dua buah pintu saluran udara tambahan besar yang terlihat di bagian tengah badan pesawat. Sampai saat ini, belum jelas jenis mesin apa yang dipakai dalam pesawat ini. Dugaan saat ini ada dua mesin yang mungkin dipakai, pertama adalah turbojet D-30F6 yang pada umumnya dipakai pada MiG-31M, sedang yang ke dua (yang digunakan pada prototype kedua) adalah turbojet Ljulka AL-37FU dengan "thrust vectoring". S-m7 adalah sebuah program eksperimental untuk mengembangkan teknologi pesawat generasi kelima, dan semua keputusan pada produksi serial untuk pesawat ini berada di tangan Menteri Pertahanan pada masa yang akan datang.
Sukhoi Su-35 (bahasa Rusia: Сухой Су-35; kode NATO: Flanker-E) adalah pesawat tempur multiperan, kelas berat, berjelajah panjang, dan bertempat duduk tunggal asal Rusia. Pesawat ini dikembangkan dari Su-27, dan awalnya diberi nama Su-27M.[1] Pesawat ini dikembangkan untuk menandingi F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon. Karena kesamaan fitur dan komponen yang dikandungnya, Su-35 dianggap sebagai sepupu dekat Sukhoi Su-30MKI, sebuah varian Su-30 yang diproduksi untuk India.[2] Pesawat ini sendiri merupakan seri flanker terakhir dan merupakan pengisi kekosongan generasi antara generasi 4 dan generasi 5, bisa dimasukkan dalam generasi 4++.[3] Pesawat Su-35 perdana kemudian dikembangkan lagi menjadi Su-35BM, yang memasuki deretan produksi sebagai Su-35S.[4] Angkatan Udara Rusia saat ini mengoperasikan 12 pesawat tempur Su-35 sejak tahun 2008.[5]
Sukhoi Su-57 (Bahasa Rusia: Сухой Су-57; kode NATO: Felon) adalah jet tempur generasi kelima yang dikembangkan oleh Sukhoi untuk Angkatan Udara Rusia. Sebelumnya jet tempur ini bernama PAK-FA (Bahasa Rusia: ПАК ФА; singkatan dari: Перспективный авиационный комплекс фронтовой авиации/kompleks aeronautika prospektif angkatan udara garis depan). Pesawat tempur ini direncanakan untuk menggantikan jet tempur MiG-29 Fulcrum dan Su-27 Flanker pada sistem pertahanan udara Rusia. Selain itu, Su-57 juga dijadikan sebagai dasar untuk proyek Sukhoi HAL FGFA yang bertujuan mengembangkan jet tempur untuk kebutuhan Angkatan Udara India , tetapi proyek Sukhoi HAL FGFA telah usai setelah India Kecewa dengan Rusia dalam proyek tersebut. Pesawat Su-57 dirancang untuk menandingi jet tempur siluman F-22 Raptor dan F-35 Lightning II milik AS. Penerbangan perdana prototip Su-57 (Sukhoi T-50) dilakukan pada tanggal 29 Januari 2010. Kemudian disusul dengan penerbangan kedua pada tanggal 12 Februari 2010. Dan hingga pada tanggal 31 Agustus 2010, PAK FA Sukhoi T-50 sudah 17 kali melakukan penerbangan dan melakukan operasional Pertamanya di Angkatan Udara Rusia pada 25 Desember 2020. Direktur Sukhoi, Mikhail Pogosyan, telah memproyeksikan pemasaran 1.000 unit Sukhoi Su-57 dalam waktu empat dekade ke depan. Pembuatan jet tempur siluman ini akan dilakukan berdasarkan kerja sama Rusia dengan India. Kedua negara tersebut masing-masing akan memiliki 200 unit Sukhoi Su-57, sedangkan 600 unit berikutnya akan dijual kepada negara-negara lain. Pada tahap pertama Angkatan Udara India akan memperoleh 50 unit pesawat versi satu crew (versi Rusia) sebelum pengembangan Sukhoi Su-57 dengan 2 crew yang akan dikembangkan pada proyek FGFA. Sedangkan Departemen Pertahanan Rusia akan membeli 10 unit pada produksi tahap pertama pada tahun 2012, kemudian disusul pembelian 60 unit pada tahun 2016. Sementara itu Ruslan Pukhov, Direktur Pusat Analisis Strategi dan Teknologi Sukhoi, telah memproyeksikan bahwa Vietnam akan menjadi negara kedua setelah Rusia dan India yang akan membeli produk Sukhoi Su-57 ini. Jet tempur ini diharapkan memiliki masa operasional sekitar 30 hingga 35 tahun. Namun pada Kenyataannya Produksi Su-57 Tidak sesuai dengan Rencana awal yang dijanjikan. Produksi pada tahun 2010–2017 Su-57 hanya diproduksi 25 unit (25 unit tersebut merupakan purwarupa) dan Mulai melakukan produksi versi Serial pada 2019 hingga sampai Sekarang. Saat ini 25 unit Su-57 serial sudah dioperasikan Angkatan Udara Rusia, 3 di antaranya diterima pada Febuari 2024